Beberapa tahun lalu rasanya kami seperti membangun departmen baru.

Beberapa staff keluar. Ada yang mendapat opportunity di tempat lain. Ada juga yang saya dorong mengambil kesempatan di bagian lain.

Seperti rumah yang tiba-tiba kehilangan beberapa penghuninya, ruangan yang sama terasa berbeda.

Pekerjaan tidak ikut pergi bersama orangnya. Email tetap masuk. Meeting tetap berjalan. Sebagian pekerjaan berpindah ke meja yang lain. Sebagian lagi berpindah ke meja saya. Tidak ada hari yang benar-benar lengang.

“Kita harus cepat cari gantinya” kata Alen, rekan kerja saya selama 13 tahun.

Saat itu tidak memungkinkan untuk hire dari luar. Pilihan yang paling realistis tinggal melihat ke shopfloor (rekrut internal).

Di sana, tidak banyak orang yang suatu hari bisa membaca data, berdiskusi dengan customer, dan sesekali presentasi dalam bahasa Inggris.

Kalau ada, biasanya sudah dilirik bagian lain.

Akhirnya kami tidak mencari orang siap. Kami mencari orang yang punya kemauan untuk belajar.

Kuesioner pun disebar. Dari sekitar 200 orang, sekitar 70 yang menjawab. Yang tertarik hanya lima orang. Itu pun masih ada yang ragu-ragu.

Setelah beberapa kali interview, kami melihat tiga orang yang tampak ingin belajar. Akhirnya kami ambil dua orang. Satu orang lagi menyusul di tahun berikutnya.

Semuanya kelahiran tahun 2000-an. Generasi yang belakangan sering menjadi bahan diskusi di kalangan praktisi HR. Saya pikir kritik terhadap generasi muda selalu ada di setiap generasi.

Kalau ada yang bilang Gen Z “kurang siap”, mungkin kitanya saja yang belum siap dengan dunia baru. Mereka lahir ketika cara orang belajar, berkomunikasi, dan memandang pekerjaan sudah banyak berubah.

Meja di office kembali ramai. Ada pertanyaan. Ada pekerjaan yang harus diperiksa ulang. Ada file yang harus diperbaiki. Ada penjelasan yang harus diulang-ulang.

Setahun pertama berjalan seperti itu. Kalau dihitung-hitung, mungkin lebih cepat saya kerjakan sendiri. Dan memang lebih cepat. Untuk hari itu. Tapi tidak untuk tahun-tahun berikutnya.

Setiap pekerjaan yang saya ambil lagi adalah satu kesempatan belajar yang hilang bagi mereka. Itu bukan cara membangun team.

Supaya mereka berkembang, kami mulai lebih sering belajar bersama. Ada training di kelas. Ada diskusi setelah meeting. Tapi yang paling sering justru belajar di meja kerja, di depan laporan, di tengah masalah yang sedang terjadi.

Pelan-pelan perubahan itu mulai terlihat. Istilah-istilah yang dulu asing mulai mereka gunakan sehari-hari. Yang dulu lebih banyak diam dalam meeting mulai ikut berpendapat. Dan yang dulu masih typo menulis istilah bahasa Inggris, sekarang sudah bisa mempresentasikan pekerjaannya dalam bahasa Inggris.

Waktu berjalan.

Seperti biasanya.

Sering saya melihat salah satunya presentasi di depan VVIP visitor. Tenang. Lancar.

Di meja lain, ada yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang dulu hampir selalu berakhir di meja saya. Dia juga sering memimpin project di lapangan.

Seorang lagi kini mengurus administrasi. Rapi. Teliti. Dan jarang membuat saya khawatir.

Melihat mereka hari ini, saya jadi ingat apa yang pernah dikatakan Alen, ayunda saya yang gemar membaca buku. Ia pernah bilang, mungkin ini adalah buah dari servant leadership.

Gagasan Robert K. Greenleaf ini sebenarnya sederhana:

Tugas pemimpin bukan membuat orang bekerja untuk dirinya.

Tugasnya membantu orang lain berkembang sampai suatu hari mereka mampu memberikan kemampuan terbaiknya.

Di cangkir saya, kopi sudah dingin. Beberapa tahun lalu, saya khawatir mereka tidak siap. Hari ini, saya justru lebih sering khawatir mereka akan direkrut perusahaan lain.

Dan saya pikir, itu salah satu kekhawatiran terbaik yang bisa dimiliki seorang pemimpin.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.