Cara Membuat NP-chart

Jika P-chart memonitor proporsi cacat () dalam jumlah sampel (n), maka NP-chart memonitor jumlah cacat itu sendiri. N dalam NP-chart berarti “number” atau “jumlah”, yaitu jumlah unit-unit yang tidak sesuai (nonconforming units) dalam sebuah sampel. NP-chart hanya menggunakan pengukuran sampel konstan. Montgomery (2005) mengatakan:

Many non-statistically trained personnel find the np chart easier to interpret than the usual fraction nonconforming control chart. (p. 279).

Pada umumnya data jumlah item cacat memang lebih disukai dan mudah untuk diinteprestasikan dalam pembuatan laporan dibandingkan dengan data proporsi.

Berikut perbedaan NP-chart dan P-chart:

  • Batas kendali dihitung dengan np ± 3 np(1 – p) , yang mana n adalah ukuran sampel dan p adalah proporsi cacat. Jika nilai standar  untuk p  tidak tersedia,  \bar p (rata-rata p) dapat digunakan untuk menghampiri p.
  • Data yang di-plot-kan pada peta kendali adalah jumlah cacat (np), bukan proporsi cacat ().
  • Ukuran sampel (n) harus konstan.

Sebagai contoh perhatikan Tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5

Data untuk NP-chart, ukuran sampel n = 50

[table-5: np-chart data]

Sumber: Montgomery, 2005, p. 270 (dimodifikasi)

Dari 30 sampel pada Tabel 5 di atas terdapat  ∑i=1,…,30 Di  = 347 unit cacat, dan nilai p dihampiri dengan

\bar p = m

i=1

Di = 347 = 0,2313
mn (30)(50)

Dengan n = 50, parameter untuk NP-chart adalah sebagai berikut:

UCL = np + 3  np(1 – p)
= 50(0,2313) + 3 (50)(0,2313)(0,7687)
= 20,51
Garis pusat = np = 50(0,2313) = 11,57
LCL = np – 3 np(1 – p)
= 50(0,2313) – 3 (50)(0,2313)(0,7687)
= 2,62

Gambar 6 di bawah ini adalah NP-chart dari perhitungan di atas.

[picture-6: np-chart]

Gambar 6. NP-chart, ukuran sampel n = 50

35 thoughts on “ Statistical Process Control ”

  1. mau minta penjelasan nih kenapa pake 3 sigma kenap ga pake 2 atau satu? please penjelasannya sama referensi bukunya ? mksih. dtunggu scpatny?

    Suka

    1. Saya akan menjelaskan secara aplikasi di lapangan saja. Berikut list sigma yg saya ketahui:

      – 6 sigma = 3,4 ppm, passed rate = 99,99966%
      – 5 sigma = 233 ppm, passed rate = 99,9767%
      – 4 sigma = 6.210 ppm, passed rate = 99,379%
      – 3 sigma = 66.807 ppm, passed rate = 93,3193%
      – 2 sigma = 308.537 ppm, passed rate = 69,1463%

      Di tempat saya bekerja, konsumen akan kasih warning bahkan cabut order jika passed rate di bawah 98%. Passed rate = (Output – Cacat) / Output.

      Kebanyakan perusahaan menggunakan minimal 3 sigma untuk mengendalikan kualitas produknya.

      Untuk bukunya silahkan anda cari buku yg membahas six sigma atau buku statistik yg menjelaskan kurva/distribusi normal.

      Suka

  2. Sebaiknya jangan diganti jika tidak ada kejadian besar yg mengubah proses.

    Bayangkan jika anda mengganti menjadi k = 2 (terlalu sempit), probability untuk menemukan special cause akan naik. Ini tentunya akan terlalu sering mengganggu proses karena ada risiko banyak mendeteksi special cause padahal sebenarnya itu milik sistem (common cause). Artinya anda akan melakukan Error Type I (kesalahan yg dibuat peneliti karena menolak hipotesis nol, padahal hipotesis nol itu benar)

    Demikian pula, ketika anda mengganti menjadi k = 4 (terlalu lebar), beberapa special cause mungkin tidak terdeteksi. Hal ini meningkatkan kemungkinan melakukan Error Type II (kesalahan karena menerima hipotesis nol, padahal hipotesis nol itu salah.

    Suka

    1. Jika tujuan Pak Edo ingin menciptakan data terkontrol (in control) sebagai bahan acuan untuk memonitor suatu proses, maka Pak Edo dapat menghapus sampel yg berada diluar batas kendali UCL-LCL kemudian menghitung ulang kembali.
      Untuk uji normalitas, silahkan kunjungi
      https://eriskusnadi.wordpress.com/2012/04/07/uji-normalitas-dengan-kolmogorov-smirnov-test-pada-pspp/
      https://eriskusnadi.wordpress.com/2012/02/26/uji-normalitas-dengan-gearys-test/

      Suka

  3. Pak, bila data saya rejectnya besar, salah satunya hingga 38% namun masih dalah batas control p-chart, bagaimana analisisnya ? Kapan bisa menggunakan peta p chart model rata-rata?

    Suka

  4. 1. Misal terdapat Variabel data mengapa data-data tersebut harus dikelompokkan menjadi beberapa subgroup?

    2. Mengapa sampai terjadi pada sub grup anggotanya hanya 1?
    3. Jika anggotanya lebih dari satu apa alasan anda menentukan subgrupnya kurang dari sepuluh atau lebih dari 10?

    4. Apabila subgrupnya dibawah 10 berapa jumlah anggotanya ideal berapa?

    5. Mengapa subgroup 1, 2-9 dan diatas 10 rumusnya berbeda-beda?

    6. Bagaimana menentukan frekwensi tiap subgroup

    Suka

  5. apakah control chart bisa digunakan sebelum proses produksi dimulai (tanpa adanya produksi terlebih dahulu, hanya forecast)? Kalau bisa, berapa banyak sampel yang harus diambil dan dengan control chart apa? thanks.

    Suka

  6. Pak,saya mau tanya,untuk pengambilan sampel nya itu boleh acak atau tidak ya ?misal saya punya data bulanan untuk 4 kemasan,setiap kemasan parameter nya PH dan Turbidity,dalam satu bulan itu tidak setiap hari memproduksi kemasan yang sama,apakah bisa pak ?Terimakasih

    Suka

  7. Dear, Pak Eris..

    Saya mau tanya Pak..
    Tahap measure pasa six sigma salah satu pengukurannya kan menggunakan peta kendali ya Pak, di dlm rumus peta kendali itu memakai rumus +/- 3 sigma.
    saya masih kurang paham kenapa pakainya 3 sigma? metode konsepnya saja six sigma?
    mohon bantu penjelasannya Pak..

    Terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke hadi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.